Bojonegoro, ada apa to Bojonegoro Saiki???
Banyak Hal yang dapat diceritakan
di Kota Kecil tercinta ini, Mulai dari Bupatinya yang merakyat, Pemerintahannya
yang Terbuka, Budayanya yang hidup saling berdampingan, Destinasi Wisatanya
yang aduhai, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Bojonegoro, 20 Oktober merupakan
hari bersejarah bagi Masyarakat Bojonegoro, hari itu adalah hari dimana masyarakat
merayakan Hari Jadi Kabupaten Bojonegoro. Ditahun 2016 ini usia Bojonegoro
sudah yang ke-339.
Tahun ini berbeda tentunya dengan
tahun lalu, 20 Oktober kemarin saya mengikuti Upacara Hari Jadi Kabupaten
Bojonegoro yang ke-339 dengan undangan tertentu tentunya. Sehari sebelum
pelaksanaan Upacara Hari Jadi, dilaksanakannya Festival OGP (Open Goverment
Partnership) saya bersama Kades Ngasem (Suwondo,SE.MM.) Mengikuti kegiatan
tersebut di Gedung Pemkab Bojonegoro yang Baru, Desa Ngasem adalah salah satu
desa diantara sepuluh desa lainnya di Kabupaten Bojonegoro yang termasuk desa
yang transparan, Desa Ngasem dengan keunggulan webdesnya ngasem-bjn.desa.id yang
sudah memuat transparansi anggaran dan sudah adanya SID (sistem informasi desa)
dalam webdes tersebut masuk lima besar dalam Festival OGP, sehingga Desa Ngasem
meraih Penghargaan Bupati pada Festival OGP tersebut.
Berawal mula dari Festival OGP,
dalam Upacara HJB ke-339 mendapatkan undangan khusus sebagai Desa terbaik dan
berprestasi. Waow seruuuu,,,,
Saya mengikuti Upacara dengan
khidmat, mendengarkan Pidato resmi Kang Yoto Bupati Bojonegoro yang khas dengan
logat Wong Jonegoro membuat setiap orang yang mendengarkan merasakan haru,
bangga dan semangat untuk berkarya demi Bojonegoro tercinta, banyak kutipan
menarik dan motivasi-motivasi yang ku dapatkan.
Kang Yoto yang apa adanya didambakan
Kepemimpinannya oleh masyarakat Bojonegoro, membuat Bojonegoro naik level tentunya,
saat ini menjadi Trending di tingkat Nasional bahkan Dunia.
Upacara selesai, namun ternyata
ada yang menarik perhatian saya. Pertunjukan yang hebat digelar seusai protokol
membacakan rangkaian acara, tiba-tiba ratusan Pendekar Silat berlari menuju
tengah alun-alun dengan pakaian atribut lengkap perguruannya masing-masing. Bendera
kebesaran perguruan saling dikibarkan, waooww,,, semua pasang mata tamu
undangan maupun peserta upacara kaget, namun hanya beberapa saat setelah para
pendekar ini memberikan salam persatuan IPSI, gemuruh tepukan tangan mulai
terdengar memberikan apresiasi kepada aksi mereka.
Apalagi saat para pendekar silat
ini saling mempertunjukkan kebolehan jurus-jurus dari masing-masing perguruan,
rasanya suasananya semakin indah dan rasa persatuan kolaborasi jurus diantara
pesilat memberikan gerakan-gerakan yang menakjubkan.
Anehnya, semua undangan dengan
reflek tanpa sadar berdiri beranjak dari tempat duduknya, bukan lari
menjauhh,,, ehhh malah mendekat sambil menyiapkan kamera HP. hehehe saya menjadi
kebingungan.
Gamelan dari sudut utara
alun-alun, membuat suasan menjadi berbeda. Merdu mengalun mengiringi setiap gerak
pendekar yang meragakan jurus-jurus andalan dari perguruannya, dengan gamelan
yang sama namun gerak yang berbeda membuat perhatian seluruh peserta upacara. Ini
artinya meskipun berbeda namun kita sebenaranya memiliki tujan yang sama.
Setelah beberapa saat
pertunjukan, muncullah perwakilan 13 Perguruan se-Kabupaten Bojonegoro dengan
membawa bendera kebesaran perguruannya masing-masing dikibarkan. Disitulah terjadi
sejarah baru semua peserta upacara menjadi saksi Deklarasi Kampung
Pesilat Bojonegoro.
Inovasi yang diprakarsai oleh
Kapolres Bojonegoro AKBP Wahyu Bintoro, bersamaan dengan Peringatan Hari Jadi
Bojonegoro yang ke-339 tahun ini, sejarah baru yang diukir Kabupaten Bojonegoro
melalui perwakilan ratusan Pendekar silat dari 13 Perguruan yang mewakili
ribuan Pendekar yang ada di Bojonegoro mendeklarasikan Bojonegoro sebagai
Kampung Pesilat.
Sebuah trobosan baru, mempersatukan
para pendekar silat di Bojonegoro yang selama ini yang identik dengan prilaku
kurang terpuji. Dengan adanya Deklarasi ini diharapkan saling membantu
terciptanya keamanan dan partisipasi seluruh perguruan silat di Bojonegoro
bersatu padu, mewujudkan Kota Bojonegoro yang aman dan tentram.
Deklarasi Bojonegoro sebagai
Kampung Pesilat ini melibatkan diantaranya 13 Perguruan yang ada di Bojonegoro,
yaitu IPSNU PN, Margaluyu 151, PSH Winongo Muda, Tapak Suci Putra Muhamadiyah,
IKSPI, Perisai Diri, RASA, ASAD, Pencak Organisasi, Gubuk Remaja Merpati Putih dan
Rajekwesi Bojonegoro.
Dalam deklarasi Kampung Pesilat
juga diisi dengan IKRAR Pendekar Bojonegoro sebagai Komitmen bersama menjaga
Persatuan dan Kerukunan tanpa adanya sekat Perguruan. Berikut adalah Ikrar
Pendekar Silat Kabupaten Bojonegroro:
1. Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
2. Setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan
pancasila dan UUD 1945;
3. Meningkatkan persatuan dan kesatuan Bangsa;
4. Menjaga dan menjamin terciptanya keamanan dan ketertiban di
Wilayah Kabupaten Bojonegoro;
5. Menjalin persaudaraan dan kerukunan antar perguruan pencak silat
dan diluar perguruan pencak silat.
Dengan digelarnya Deklarasi dan
Ikrar Pendekar Silat Bojonegoro, semakin menguatkan Bojonegoro sebagai Kota
yang Ramah HAM, beginilah salah satu cara Bojonegoro Merayakan Praktik
Pancasila di Tingkat Lokal dan sekaligus sebagai Tuan Rumah pada Festifal
HAM yang digelar Akhir Nopember 2016 mendatang.
Jadilah Masalah itu sebagai
Peluang anda Berkarya, (Kutipan Pidato yan pernah disampaikan Kang Yoto).
''Festival HAM 2016''
@FastHAM2016
#FestHAM2016
#bojonegorolampauibatasmaksimalmu
#bojonegoromatoh
#jatimproduktif